Page 4 - Mumtazah
P. 4

4 FOKUS

         PENDIDIKAN BERBASIS

         ENTREPRENEUR

         Oleh: Tejo Nurseto, M.Pd

Kemiskinan menjadi jalan masuknya penjajahan              untuk bisa cepat dalam memahami dan menelisik
         abad baru karena bangsa yang miskin akan         kebutuhan sosial sekitar. Peserta didik diharapkan dapat
         mudah dikendalikan dan dikuasai negara lain.     menggali potensi dirinya dengan sedemikian mendalam
Generasi masa kini dan yang akan datang harus dapat       dan serius. Sebab setiap peserta didik itu memiliki
memperjuangkan dan mengelola sumber daya yang             potensi beragam yang tidak bisa disamakan setiap
melimpah, dan pendidikan entrepreneurship adalah          individu karena mereka memiliki kebutuhan sosial yang
salah satu jalan untuk keluar dari kemiskinan menuju      beragam.
kejayaan. Pendidikan entrepreneur adalah satu konsep
pendidikan yang memberikan semangat pada peserta          Pola pendidikan sedemikian ini menuntut peserta didik
didik untuk kreatif dan inovatif dalam mengerjakan        untuk bisa produktif. Pendidikan entrepreneur adalah
sesuatu hal.                                              sebuah pendidikan yang mengarahkan dan membekali
                                                          peserta didik untuk bisa cepat dalam merespon
Guru memegang peranan yang sangat penting dalam           perubahan dan memahami kebutuhan sosial ekonomi
mendidik atau menanamkan mindset anak untuk               masyarakat. Tidak hanya guru yang berperan penting
menjadi seorang entrepreneur. Hal ini dikarenakan         dalam pendidikan enterpreneuer. Banyak pihak yang
sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah dan       harus ikut terkait didalamnya, pemerintah, orang tua,
anak sangat percaya dengan apapun yang diajarkan          masyarakat dan peserta didik secara langsung.
oleh gurunya. Guru hendaknya membina dan
menumbuh-kembangkan jiwa entrepreneurship kepada          Pemerintah seyogyanya mau menyediakan dana yang
anak, guru harus memberikan fasilitas dan kreatif dalam   memadai agar proses pendidikan entrepreneurship
memberikan pengajaran dan pendidikan pada anak.           dapat berjalan dan dijalankan secara efektif. Orang tua
Guru dalam mengajar harus bisa mengaitkan apa yang        harus membekali pendidikan entrepreneur sejak dini
diajarkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan            untuk anak-anaknya, guru harus mengajarkan spirit
entrepreneurship. Entrepreneurship sangat dibutuhkan      entrepreneur pada murid-muridnya, masyarakatpun
oleh anak karena jika ini diberikan oleh guru secara      harus lebih aktif dan intensif. Jika menginginkan
kontinyu lambat laun akan tertanam di mindset anak        bangsanya maju maka memantau perkembangan
tentang entrepreneurship. Kelak ketika dewasa anak        pendidikan entrepreneur itu penting, tidak hanya
akan terbiasa dengan entrepreneurship dan yang            menjadi bangsa yang dianggap sebagai mesin uang
terpenting lagi anak tidak akan takut dengan resiko yang  tetapi berwirausaha menciptakan lapangan pekerjaan
dihadapi                                                  bagi masyarakat.

Gerakan pendidikan entrepreneur harus dimulai sejak       Negara yang kaya raya akan sumber daya alam ini bila
dari, PAUD, TK, SD, SMP, SMA, PT dengan                   didukung sumber daya yang memiliki spirit entrepreneur
memasukkan kurikulum kewirausahaan. Pendidikan            yang tinggi akan menjadi Negara yang makmur
mempunyai peranan yang sangat penting untuk               sehingga dengan sendirinya kemiskinan akan berkurang
kemajuan suatu bangsa. Pendidikan entrepreneur            bahkan menjadi sejarah dan tinggal kenangan yang
adalah satu konsep pendidikan yang memberikan             hanya ada di museum.
semangat pada peserta didik untuk kreatif dalam
mengerjakan sesuatu. Pendidikan entrepreneur adalah       Sumber: Tejo Nurseto. 2010. Pendidikan Berbasis
kerangka pendidikan yang mengarahkan peserta didik        Entrepreneur. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia,
                                                          Vol. VIII. No. 2 – Tahun 2010, Hlm. 52 - 59
   1   2   3   4   5   6   7   8   9