STOP!!! Merayakan Hari Valentine

STOP!!! Merayakan Hari Valentine

 

Oleh: Romadhani Apriyanto

Guru SD Muhammadiyah Al Mujahidin Wonosari

 

           Hari kasih sayang, begitulah nama yang disematkan pada setiap tanggal 14 Februari atau yang lebih dikenal di masyarakat dengan nama Valentine day, banyak kawula muda mengekspresikan rasa cinta dan rasa sayang mereka kepada kekasihnya dengan berbagai macam cara.

 

Sejarah Kelam

Terdapat banyak versi sejarah yang menyebutkan asal-usul hari Valentine. Pertama kali hari Valentine dijadikan sebagai hari perayaan gereja oleh Paus Gelesius I yang saat itu menjadi penguasa Romawi pada tahun 496 M. Upacara ini diberi nama Saint Valentine’s Day, dengan tujuan untuk mengenang St.Valentine yang telah wafat tepat pada tanggal 14 Februari. Konon katanya St.Valentine adalah pendeta pada masa Kaisar Claudius II. Di masa pemerintahannya, Kaisar Claudius II melarang para tentara single untuk menikah, disebabkan tentara yang sudah menikah akan menjadi lembek dan lemah untuk berperang. Namun, St.Valentine melanggar aturan itu dan diam-diam ia berani menikahkan banyak tentara muda sehingga ia pun dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.

Seorang muslim yang kuat imannya maka tidak akan merayakan hari Valentine tersebut. Ketika kita merayakan hari Valentine, berarti kita telah mengikuti dan mendukung serta melakukan penghormatan kepada orang Nasrani yang dianggap sebagai ‘pahlawan cinta’. Padahal Rasulullah SAW yang merupakan tauladan bagi semua insan telah memberi peringatan kepada kita agar tidak mengikuti kebiasaan- kebiasan yang menjadi ciri khas orang- orang kafir atau syiar- syiar mereka.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa bertasyabbuh (menyerupai) suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad shahih).

Di dalam hadits ini, terdapat larangan keras bagi seorang muslim yang bertasyabbuh (menyerupai) kebiasaan ciri khas atau syiar orang- orang kafir. Telah kita ketahui bersama bahwa Hari Valentine atau orang menyebutnya dengan hari kasih sayang ini merupakan syiar dan  perayaan mereka. Oleh sebab itu,sangat disayangkan  jika ada seseorang yang mengaku sebagai muslim ikut- ikutan merayakan atau memeriahkan hari tersebut dengan berbagai macam rangkaian acara yang banyak melakukan pelanggaran- pelanggaran syariat dengan dalih hari kasih sayang tersebut.

 

Bahkan Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman Nya surat Al Baqoroh:

 Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu"

 

Bahwa orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan pernah berhenti berusaha, bahkan mereka mengerahkan semua tenaga, pikiran, dan materinya untuk mengemas bagaimana ajaran mereka kelihatan menarik dan dapat diterima serta diikuti oleh kaum muslimin secara tidak sadar, yang seolah-olah hal tersebut sesuatu yang wajar dan tidak bertentangan dengan syariat. Dan itulah salah satu bentuk kecerdikan yang mereka miliki dalam mendakwahkan agamanya.

Para pembaca yang dirahmati Allah, di era sekarang ini atau orang sekarang menyebutnya zaman now, jalan hidup Yahudi dan Nasrani mana yang tidak ditiru oleh kebanyakan kaum muslimin? Mulai gaya berpakaian, gaya makan, gaya penampilan, gaya hidup, bahkan sampai gaya beragamapun banyak mengikuti Yahudi dan Nasrani. Salah satunya ketika hari Valentine, mereka saling memberi coklat, bunga, kado, pergi ke pesta, serta gaya hidup orang-orang Yahudi dan Nasrani lainnya yang banyak kita dapatkan  pada hari tersebut. Lantas, kita kemanakan rasa ridho dan bangga kita terhadap agama Islam ini, sehingga harus mengikuti tradisi dan kebiasaan mereka?

 

Kelabu Di Hari Valentine

Pembahasan mengenai hari Valentine umumnya tidak lepas dengan yang namanya hubungan ‘cinta’ sepasang kekasih. Terlebih di zaman sekarang atau zaman now, dimana rasa malu telah lenyap dari jiwa serta syariat Islam yang telah dibuang jauh di belakang punggungnya membuat pecinta kebaikan hanya bisa mengelus dada sedih melihat realita yang ada. Padahal, syari’at Islam yang mulia ini telah mengatur batasan-batasan hubungan pergaulan antara dua jenis manusia.

Di hari yang dikatakan sebagai hari ‘kasih sayang’ ini (kalaulah itu benar), seharusnya hari tersebut diliputi oleh suasana cerah yang penuh kebaikan, bukan diliputi oleh kelabu dosa dan pekatnya kemaksiatan. Bahkan baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jauh- jauh hari mengkhawatirkan umatnya sepeninggal beliau tertimpa fitnah wanita. Beliau bersabda:

 “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (ujian) yang lebih membahayakan kaum laki-laki daripada fitnah wanita” (HR, Bukhari-Muslim).

Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

 

Ketika Cinta Bersemi

Jatuh cinta memang fitrah seoarng manusia bahkan islam sendiri pun mengajarkan tentang kasih sayang, tentunya diatur dengan aturan–aturan yang penuh keindahan dan kemaslahatan. Lalu bagaimana islam mengatur jika seseorang terlanjur jatuh cinta kepada orang lain yang susah sekali untuk menghilangkannya. Jatuh cinta diistilahkan oleh para ulama’ dengan al-‘isyq. Ketika seseorang terkena al-‘isyq (mabuk cinta) kepada lawan jenis, hendaknya dia memperhatikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut.

Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kalian mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa adalah tameng baginya” (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam hadits tersebut Nabi memberikan solusi bagi para pemuda yang tinggi syahwatnya untuk segera menikah, karena menikah akan menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan dan akan menjaga kemaluannya dari perbuatan yang keji. Apabila belum mampu, solusi lain adalah dengan berpuasa, karena puasa akan meredam gejolak syahwatnya dengan sebab dia menahan diri dari makan dan minum.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd hafizhahullah menjelaskan ada 19 cara agar seseorang dapat terbebas dari al-isyq, di antaranya yaitu:

  1. Berdoa kepada Allah dan meminta perlindungan kepada-Nya dikarenakan dia tengah tertimpa musibah berupa al-isyq.
  2. Hendaknya dia menyibukkan diri untuk perkara-perkara yang bermanfaat untuk dunia maupun akhiratnya supaya dia dapat terlupakan dari orang yang dia cintai.
  3. Senantiasa bermajelis ilmu, karena di dalamnya terdapat nasehat dan peringatan bagi setiap jiwa yang lalai dari akhiratnya.
  4. Melihat kekurangan orang yang dia cintai.
  5. Memperhatikan keadaan orang-orang yang terkena al-isyq, betapa banyak orang yang menjadi ‘gila’ karena cinta.

 

Nasehat

Terakhir, kami nasehatkan untuk pembaca khususnya para pemuda untuk mengasihi dan menyayangi dirinya masing-masing. Jangan sampai dengan maksud mewujudkan rasa cinta kita kepada sang kekasih, justru bersamaan dengan hal itu kita tidak menyayangi diri kita sendiri, yaitu dengan membenamkan diri kita kedalam jurang kenistaan dan mendapatkan ancaman Allah berupa siksa yang keras disebabkan kita menerjang larangan- larangan-Nya. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk meninggalkan perkara- perkara yang dapat mengundang kemurkaan Nya salah satunya mengikuti perayaan Valentine Day, dan kita memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan keistiqomahan, petunjuk serta menyelamatkan kita dari berbagai macam fitnah (ujian) ini. Wallahu a’lam bish shawab

 

Sumber: 

Kitab Syaikh Muhammad Bin Ibrahimal Hamd az Zulafi, berjudul "al 'isyqu", www.toislam.net

The World Book Encyclopedia, 1998, berjudul "Valentine'