SD MUHAMMADIYAH AL MUJAHIDIN WONOSARI

Jl. Mayang, Gadungsari, Wonosari, Gunungkidul

membangun kecerdasan dan keshalehan

PHBS dalam Mencegah Cacingan

Kamis, 27 September 2018 ~ Oleh Meidia Fithri ~ Dilihat 143 Kali

 

Oleh: dr. Devi Wardoyo

Dokter Puskesmas Girisubo Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul

 

     Di sebuah bangsal rumah sakit, seorang anak laki-laki umur 12 tahun, pucat dan nafasnya terkesan sesak sedang mendapatkan perawatan. Pada lengannya terpasang infus dengan kantong darah yang dialirkan melalui selang infus tersebut. Ya, anak ini mendapatkan tranfusi darah! Karena hasil laboratorium yang menunjukkan kadar Hemoglobin darah pada angka 5 mg/dl, sangat rendah! Dan hasil laboratorium feces juga menunjukkan adanya telur cacing tambang. Dokter anak menyimpulkan, anak ini mengalami gagal jantung karena anemia berat. Dan anemia berat ini disebabkan karena cacing tambang yang hidup di dalam ususnya.

       Indonesia merupakan negara tropis dengan tanah yang lembab dan subur. Namun jenis tanah seperti ini merupakan tempat yang baik untuk cacing. Dampaknya, secara epidemiologi angka kejadian kecacingan masih tinggi. Hasil survei Cacingan di Sekolah Dasar  tahun 1986-1991 menunjukan prevalensi sekitar 60%-80%, dan untuk semua umur berkisar antara 40%-60%. Sedangkan hasil survei Subdit Diare Departemen Kesehatan RI tahun 2002-2003, prevalensi berkisar antara 2,2%-96,3%. Pada tahun 2014, prevalensi kecacingan di Indonesia bervariasi antar daerah, yaitu berkisar antara 0-85,9%. Data ini menunjukkan bahwa infeksi kecacingan masih merupakan masalah kesehatan yang perlu menjadi perhatian di Indonesia. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan masih tingginya angka kejadian penyakit kecacingan ini adalah, higiene perorangan, iklim, pendidikan kesehatan, tipe lantai rumah, suplai air dan sanitasi.

     Cacing dewasa hidup di usus manusia dan menghasilkan ribuan telur setiap hari. Telur ini terbawa tinja saat BAB, dan bisa mencemari tanah apabila BAB sembarangan. Tanah yg tercemar ini menjadi media penularan cacing. Telur cacing bisa melekat pada sayuran atau buah, ketika sayuran atau buah tersebut tidak dicuci, dikupas, atau dimasak secara berhati-hati, telur cacing ini bisa tertelan. Selain itu, telur cacing dapat juga tertelan dari sumber air yang terkontaminasi dan telur yang tertelan langsung. Cara terakhir biasanya terjadi pada anak yang bermain di tanah yang terkontaminasi, dan kemudian memasukkan tangan mereka di mulut, tanpa mencucinya. Telur cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) menetas di dalam tanah, lalu melepaskan larva yang dapat aktif menembus kulit telapak kaki. Orang akan mudah terinfeksi cacing tambang, terutama saat berjalan tanpa alas kaki di tanah yang terkontaminasi.

       Kecacingan akan mengganggu status gizi orang yang terinfeksi dalam berbagai cara. Pertama, cacing memakan jaringan manusia, termasuk sel darah, yang menyebabkan hilangnya besi. Kedua, cacing meningkatkan gangguan penyerapan berbagai nutrisi penting di dalam usus. Beberapa jenis cacing tanah juga menyebabkan hilangnya nafsu makan, penurunan asupan gizi dan kebugaran fisik. Secara khusus, cacing cambuk (Trichuris trichiura) dapat menyebabkan diare dan disentri, sedangkan cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) menyebabkan kehilangan darah usus kronis yang dapat mengakibatkan anemia. Pada anak sekolah, hal tersebut bisa mengganggu belajar dan kegiatan sekolah, yang berdampak pada penurunan nilai akademisnya.

       Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul melibatkan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga telah melakukan upaya untuk pencegahan dan pemberantasan kecacingan. Pemberian obat cacing masal (POM) pada daerah dengan prevalensi kecacingan 20%-50%, dilakukan sekali setahun. Untuk program ini, WHO merekomendasikan obat cacing albendazole atau mebendazole. Sebagai tambahan, perlu juga dilakukan pendidikan kesehatan umum dan kebersihan, untuk mengurangi penularan dan infeksi cacing ulang, dengan mendorong perilaku hidup sehat. Selain itu, juga dengan perbaikan sanitasi yang memadai. Di Gunungkidul, kegiatan tersebut telah dilakukan terpadu mulai saat anak masuk sekolah, melalui pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pemeriksaan karies gigi, kelainan refraksi atau ketajaman penglihatan dan masalah gizi. Contoh PHBS sehari-hari yang praktis:

  • Cuci tangan pakai sabun pada 5 SAAT: Sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, sebelum memberi makan anak, setelah dari jamban dan setelah menceboki anak.
  • Menggunakan alas kaki sandal atau sepatu, terutama saat diluar rumah/ ditanah.
  • Menggunakan air bersih untuk mandi, keperluan makan/minum.
  • Mandi minimal 2 kali sehari
  • Makan / minum yang telah masak/matang
  • BAB di toilet/closet
  • Jaga kebersihan kuku

Sekolah merupakan titik masuk yang sangat baik untuk kegiatan pemberantasan kecacingan dengan penyediaan pendidikan kesehatan dan kebersihan. Peran orangtua dalam berPHBS (perilaku hidup bersih sehat) di rumah sangat penting untuk kesehatan anak yang bebas dari kecacingan.

 

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT