SD MUHAMMADIYAH AL MUJAHIDIN WONOSARI

Jl. Mayang, Gadungsari, Wonosari, Gunungkidul

membangun kecerdasan dan keshalehan

“EUFORIA KEMERDEKAAN DAN MAKNA 17 AGUSTUS YANG SESUNGGUHNYA”

Sabtu, 15 September 2018 ~ Oleh Meidia Fithri ~ Dilihat 94 Kali

 Oleh:Joko Suryanto, M.Pd

 

Penulis adalah mantan Pengawas Sekolah, Sekretaris PGRI Kabupaten Gunungkidul, Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca Kab. Gunungkidul yang saat ini bekerja di Dinas Dikpora Kab. Gunungkidul sekaligus orang tua wali dari ananda Muhammad dzaki zaidan suryanto.

 

     Ketika hari-hari menjelang 17 Agustus, masyarakat tiba-tiba disibukkan dengan berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia. Hampir seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai golongan turut berpartisipasi aktif dalam memeriahkannya. Semangat gotong-royong dan partisipatif ini perlu dipupuk seiring dengan kultur dan karakter Bangsa Indonesia, tidak hanya dalam rangka HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Berbagai kegiatan dapat kita jumpai dalam bentuk lomba dan pertandingan, baik di lingkungat RT, RW, Padukuhan, Desa/Kelurahan. Hampir semua jenis kegiatan bernuansa tradisional tempo dulu. Misalnya lomba panjat pinang, lari karung, bola plastik, tarik tambang, karnaval, kirab budaya, dan lainnya.

     Ada hal yang jauh lebih penting pada peringatan HUT RI, yaitu bagaimana bangsa Indonesia mampu merefleksikan makna dari kemerdekaan itu sendiri. Termasuk bersyukur pada Allah Tuhan Yang Maha Esa, sebab berkat rahmat-Nya bangsa ini bisa merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, walau harus ditebus dengan darah dan pengorbanan para syuhada atau pahlawan yang gugur dalam medan perang. Pengetahuan tentang sejarah perjuangan dalam meraih kemerdekaan harus diketahui dan dipahami oleh generasi saat ini sampai anak keturunannnya. Setiap generasi tidak boleh terjebak dengan euforia semata,apalagi sampai kehilangan makna. Pestapora dengan berbagai ragam perlu, tetapi penanaman nilai dan arti penting perjuangan dan kemerdekaan jauh lebih penting.

     Kini kita sudah merdeka, namun kemerdekaan bukan berarti akhir dari perjuangan bangsa ini. Seperti ungkapan Bung Karno, the founding fathers, kemerdekaan adalah jembatan emas yang merupakan jalan untuk mencapai suatu tujuan yang luhur. Makna dari merdeka sejatinya, merupakan persoalan pribadi sebelum menjadi persoalan bangsa. Belumlah merdeka sebuah negara yang individu masyarakatnya masih merasakan adanya penjajahan dan penindasan model baru seperti sekarang ini. Maka, sesungguhnya merdeka adalah pertarungan jati diri personal sebelum menjadi perjuangan identitas sebuah bangsa. Bangsa Indonesia baru merdeka secara harfiah, yaitu hubungan dengan musuh dan penjajah. Secara maknafiahnya masih jauh dari merdeka. Saat ini, kita dikuasai pola-pola hedonisme, materialisme, teknologi, kuasa asing, yang kesemuanya selalu dipuja dan dipuji. Padahal, hal ini merupakan bentuk gaya penjajahan zaman now yang tidak kita sadari. Nilai moral, etika dasar , dan karakter Bangsa Indonesia mulai terkikis.

     Makna merdeka bagi individu masyarakat pun harus diluruskan kembali karena selama ini sering kali disalahartikan. Individu sering memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya, hingga menjadi kebablasan. Kita harus menyadari, kemerdekaan sejati akan tercapai ketika para individu sudah bisa mengekang diri dari perilaku yang bisa melanggar atau menciderai kemerdekaan dan hak asasi orang lain. Kemerdekaan sejati mensyaratkan adanya hukum, peraturan, serta norma-norma yang harus kita taati bersama untuk tetap menjaga kekokohan kemerdekaan itu sendiri. Manakala setiap individu dan atau aparat hukum telah berlomba-lomba melanggar hukum, peraturan tinggalah peraturan, serta norma-norma tinggalah slogan, maka sejak itulah kemerdekaan yang ada akan dengan mudah diruntuhkan kembali.

     Satu bulan lalu di Tahun 2018 ini genap 73 tahun sudah usia kemerdekaan NKRI. Itu artinya, sudah banyak gemblengan dan proses pendewasaan yang dialami bangsa ini. Namun, masih begitu banyak dan kompleks masalah, ancaman, serta tantangan yang harus dihadapi bangsa ini ke depan. Mulai dari kemiskinan, korupsi, terorisme, kriminalitas, dekadensi moral, banyaknya tenaga kerja asing yang ada di Indonesia yang mengurangi hak bekerja rakyat Indonesia, dan sebagainya. Memang tidak mudah menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Bangsa ini harus segera bangkit.Menyingkirkan segala ego yang mengatasnamakan rakyatnamun pada dasarnya merampas hak-hak rakyat, atas nama keadilan namun demi kepentingan politik dan golongan tertentu, dan bergerak bersama untuk tuntaskan berbagai persoalan bangsa yang tak kunjung usai secara bijak. 

     Beberapa diantara makna peringatan hari kemerdekaan, yang harus kita kembangkan dan wariskan, yaitu:

1. Mendoakan arwah para pejuang dan pahlawan

Perjuangan para pejuang tanpa mengenal lelah, tanpa pamrih, tanpa rebut jabatan untuk berkuasa, rela mengorbankan harta benda, keluarga, nyawa, kehormatan, dan sejuta harapan mulia demi bangsa dan negara. Maka sepantasnya kita selalu mendoakan arwah para pejuang dan pahlawan kita dengan setulus-tulusnya penuh khidmat

2. Mengenang perjuangan yang dilakukan

Kita akui kehebatan super para pejuang kita, dengan semangat persatuan bangsa hanya dengan bersenjatakan tradisional kalah modern, yaitu bambu runcing, busur panah, tombak, keris, pedang, dan parang, Beliau berani melawan dan  berhadapan langsung dengan mesiu serta peralatan canggih dan modern. Kita kenang perjuangan syuhada pembela bangsa dan tanah air ini. Terbukti dengan persatuan kita dapat meraih kemerdekaan dengan perjuangan, bukan hadiah dari penjajah.

3. Meneladani hidup para pahlawan

Kehidupan para pahlawan sangat sederhana penuh dengan kekurangan, namun semangatpantang menyerah untuk mengusir penjajah dan meraih kemerdekaan, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompoknya sangatlah mulia untuk kita teladani. Perjuangan Jenderal Soedirman yang sakit tetapi tetap terus berjuang meskipun harus ditandu, perjuangan Pangeran Diponegoro yang begitu berani dan tidak mengenal putus asa, dan pejuang-pejuang lain yang telah mengharumkan bangsa dan negara. Bukankah karakter bangsa sudah ada dan bersayam di jiwa para pahlawan kita.

4. Penunjuk arah  kehidupan berbangsa dan bertanah air

Para pahlawan bangsa telah nyata memberikan petunjuk hidup bangsa yang jelas, karena telah berhasil mengusir penjajah, meraih kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, mengisi kemerdekaan dan mewujudkan pembangunan nasional. Semua arah dan tujuan demi kejayaan bangsa dan negara di masa depan.

     Bangsa kita masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk memberikan pencerahan, memberikan pemahaman kepada generasi penerus bangsa untuk bangkit demi persatuan dan kesatuan dalam mewujudkan kejayaan Bangsa Indonesia. Janganlah perjuangan para pahlawan dikotori dengan kepentingan politik yang kotor, kepentingan partai yang tidak mendewasakan demokrasi, hanya berebut kekuasaan, demokrasi yang membodohi rakyat Indonesia, demokrasi yang menghalalkan segala cara, demokrasi yang hanya siap menang tanpa legowo jika kalah.

     Mungkin saja negara ini belum membuat kita merasa nyaman tinggal di dalamnya, tetapi kita harus bisa mensyukuri dan amanah untuk mengelolanya. Bagaimana pun kondisinya, kita tetaplah tanah air tercinta. Jangan sia-siakan waktu luang yang dimiliki bangsa ini hanya untuk saling adu jotos, saling curiga, menghujat, atau hal-hal tidak penting lainnya. Saatnya kita mengisi kemerdekaan yang telah diraih para pahlawan bangsa dengan terus produktif berkarya dan tulus mengabdi untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Semoga!

 

Sumber: Majalah "Mumtazah" Edisi Bulan Agustus 2018

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT