SD MUHAMMADIYAH AL MUJAHIDIN WONOSARI

Jl. Mayang, Gadungsari, Wonosari, Gunungkidul

membangun kecerdasan dan keshalehan

NASIONALISME (Dulu, Kini dan Masa yang akan datang)

Sabtu, 15 September 2018 ~ Oleh Meidia Fithri ~ Dilihat 91 Kali

Oleh: Dr. DRs. H. Immawan Wahyudi, M.H.

 

Penulis adalah Wakil Bupati Gunung kidul(2012-2015-2016-2021), Ketua/Anggota FPAN DPRD DIY (1999-2004 & 2004-2009), Pembantu Rektor III IKIP Muh/UAD (1996-1999), Ketua PP Pemuda Muhammadiyah (1994 - 1997), Ketua Umum DPP (S) IMM (1985-1986, Ketua IMM Cabang Yogyakarta (1983-1985)

 

        Untuk tujuan mempertegas apa arah dari judul tulisan di atas, baiklah saya urai terlebih dahulu apa dan bagaimana seharusnya nasionalisme itu dilihat, dinilai, dipahami dan diaktualisasikan. Meskipun hal ini tentunya, hanya pandangan subyektif penulis yang tidak lepas dari kekurangan. Kesadaran Warga Negara Indonesia untuk mencintai tanah air, semangat membela negara- bangsa dan hidup dengan baik serta berkontribusi positif dalam kerangka berbangsa dan bernegara merupakan kata kunci dalam gerakan nasionalisme Indonesia saat ini. Pernyataan yang demikian bisa dirumuskan karena kondisi saat ini negara telah terbentuk dengan segala kesempurnaannya: konstitusinya, pemerintahannya, kekuatan sosial politik, dan sosial.

       Berbeda halnya pada masa pra-kemerdekaan. Nasionalisme pada masa pra-kemerdekaan, pada saat bangsa Indonesia masih di bawah cengkeraman penjajahan, nasionalisme menuntut komitmen dan kerja keras bahkan dengan mempertaruhkan harta benda dan nyawa. Nasionalisme pada saat itu kata kuncinya adalah warga bangsa yang berkontribusi dalam merebut kemerdekaan sesuai dengan kekuatan, kemampuan, dan keadaan yang dimiliki oleh warga bangsa. Bisa dikatakan hal ini sebagai jihad warga bangsa pada saat itu. Ada kondisi lain yang masih terhitung sebagai sikap nasionalis saat itu yakni "asal tidak berpihak kepada penjajah (Belanda, Jepang, dan seluruh anasir-anasirnya) " bisa dikatakan sebagai warga bangsa yang masih nasionalis. Ini sikap nasionalis yang minimalis, tetapi masih ada gunanya bagi bangsa Indonesia saat itu.

      Sedangkan nasionalisme dimasa-masa yang akan datang adalah terkait dengan konsep ideologis dalam berbangsa dan bernegara. Pertama, nasionalisme adalah sikap hidup sebagai seorang nasionalis sebagai dari suatu pandangan (isme) yakni sikap hidup dan cara pandang yang harus dimiliki oleh seluruh warga negara, bukan(diklaim) hanya merupakan identitas dari suatu kelompok warga negara. Kedua, harus mau dan mampu menggunakan seluruh kekuatan bangsa, dari yang bersifat abstrak dan berpengaruh sangat dahsyat yakni: kekuatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, kekuatan spiritual-religius, hingga kemampuan yang kongkret yakni: hasil budidaya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari teknolgi pangan, teknologi komunikasi, teknologi persenjataan hingga teknologi untuk menemukan dan mengembangkan ilmu pegetahuan itu sendiri. Pendek kata nasionalisme di masa-masa yang  akan datang tidak hanya peristiwa-peristiwa sederhana yang penuh dengan ungkapan cinta tanah air dan heroism, tetapi juga memerlukan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas yang di back-up dengan seluruh kemampuan termasuk kemampuan Imtak (Iman dan Takwa) serta Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) secara berbarengan.

Bagaimana Nasionalisme Ditumbuhkan?

Nasionalisme   dapat   diungkapkan   secara sederhana maupun secara kompleks dan ilmiah, bahkan  bisa  menjadi  sangat  filosofis.  Jika nasionalisme  dikaitkan  dengan  upaya menumbuhkan  kesadaran  nasionalisme  pada anak-anak remaja,   maka nasionalisme dapat kiranya ditransformasikan melalui media dan cara yang sederhana. Contoh dari cara dan media sederhana antara lain cerita heroik kepahlawanan dalam berbagai bidang. Misalnya kepahlawanan di bidang ilmu pengetahuan dengan mencerierakan para ilmuwan Indonesia yang bukan saja diakui secara nasional tetapi juga sangat dihormati dilevel internasional, taruhlah contohnya Prof.BJ Habibie, sebagai salah satu contoh. Sejarah hidup Prof.BJ  Habibie baik bisa ditulis dengan teknik penulisan cerita yang baik, dan bisa juga dituangkan dalam film sebagaimana telah kita lihat bersama dalam film dengan judul: "Ainun Habibie".

Tindakan-tindakan yang dapat dikategorikan sebagai tindakan nasionalis dapat pula kita temukan dalam berbagai sikap dari Warga Negara Indonesia dalam menunjukkan kehebatan dan komitmen menjaga nama baik bangsa. Misalnya ketika ada anak bangsa yang terkena ancaman hukuman mati di luar negeri kemudian memunculkan gerakan membantu dengan mengumpulkan koin demi pembebasan WNI yang terancam hukuman mati tadi. Ini sangat heroik. Juga dapat kita temukan dalam kegiatan olahraga ketika kesebelasan U-16 Indonesia menjadi juara, ketika olahragawan/wati Indonesia menjadi juara dalam cabang olahraga apapun, dan peristiwa mutakhir adalah ketika Muhammad Zohri menjadi juara dunia sprint (lari100meter) dengan mengalahkan dua pelari AS yang sangat terlatih. Ini juga sangat heroik.  Pendek kata ketika  Sang Merah Putih berkibar di ajang olahraga internasional pasti mengharumkan nama bangsa dan negara. Ajaklah anak-anak atau lebih tepat fasilitasilah anak-anak untuk menyaksikan momen-momen tersebut.

Perjuangan para Tenaga Kerja Indonesia diluar negeri, terutama TKW (Tenaga Kerja Wanita) juga bisa menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat, jika diungkapkan dengan baik dan berorientasi  pada nilai-nilai perjuangan hidup sebagai anak bangsa dalam mempertahankan agama dan atau  mempertahankan nama baik bangsa. Pendek kata semua  perjuangan  yang  heroik  itu  dapat menumbuhkan rasanasionalisme anak, tetapi jangan ditambah-tambahi menjadi cerita menjadi  ceritera yang bombastis bahkan menyesatkan. Hal ini terkait dengan sikap psikologis anak yang dikenal dengan hero worship dapat diartikan: mengagumi tindakan-tindakan kepahlawanan. Cerita aparat Negara yang berdedikasi melebihi apa yang seharusnya dilakukan, misalnya tentara atau polisi menjadi guru yang mengajar tanpa bayaran didaerah perbatasan, ataupun pengabdian lain yang demikian inspiratif dalam membangun kehormatan anak bangsa memiliki dimensi ruh nasionalisme. Demikian juga pejabat yang memberantas korupsi sekurang-kurangnya anti korupsi adalah juga peristiwa yang mengandung pesan nasionalisme. Sebaliknya pejabat korup atau penegakan hukum yang tidak benar, terorisme, dan lain-lain tindakan kejahatan terhadap Negara dan bangsa adalah peristiwa anti-nasionalisme.

Pengalaman Pribadi

Saya sendiri memperoleh pandangan tentang bagaimana sikap mencintai tanah air dari ayah (yang memimpin pejuang-pejuang Hizbullah pada masa perang kemerdekaan), dan saudara-saudara  ayah saya yang menjadi tentara atau polisi saat itu. Ketika mereka akan dan sepulang dari menunaikan tugas negara ke Irian Barat tahun 1963 misalnya, atau ke penumpasan pemberontakan Permesta dan lain-lain, berkumpul di rumah ayah saya. Cerita suka duka yang mereka ungkapkan berjam- jam itu menumbuhkan bukan saja pengetahuan tapi rasa semangat  saya mendengar Pakde dan Paklik saya menunaikan menunaikan tugas negara. Apalagi saya sering diceritai oleh ayah saya  tentang Pak Yasir Hadibroto (Mayor Jenderal, yang pernah jadi Pangdam IV DIPONEGORO, dan Gubernur Lampung) yang pada masa perjuangan kemerdekaan bermarkas di desa saya bahkan di rumah orang tua kakak ipar saya.Semua cerita itu terekam sampai saat ini.

"Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua dalam memelihara nasionalisme bersama seluruh anak bangsa, siapapun mereka, dimanapun mereka dan beragama apapun mereka, Salam".

 

Sumber: Majalah "Mumtazah" Edisi Bulan Agustus 2018

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT