Oleh: Sakti Hutomo, S.E.
Orang Tua dari Bintang Rizky Ramadhan, Kelas 5 Brilliant
Anak adalah amanat dan anugerah dari Allah kepada manusia yang menjadi orang tuanya. Oleh karena itu, orang tua bertanggung jawab penuh agar anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agamanya sesuai dengan tujuan dan kehendak Tuhan Sang Pencipta.
Pendidikan atau pola asuh islami sejak awal kehidupannya menempati posisi kunci dalam mewujudkan cita-cita menjadi manusia yang berguna. Seorang anak itu mempunyai “Dwi Potensi” yaitu bisa menjadi baik atau buruk. Oleh karena itu orang tua wajib membimbing, membina dan mendidik berdasarkan petunjuk-petunjuk dari Allah SWT, yaitu melalui Al-Qur’an dan Al-Hadist. Di era kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat tentunya membawa dampak yang luar biasa, kepada anak kita bekali dengan gaya hidup agamis sehingga tentunya mereka akan dapat memfilter mana yang baik dan mana yang buruk .
Dengan demikian pendidikan atau pola asuh secara islami merupakan suatu cara yang mutlak dilakukan. Contoh sederhana yang biasa atau sudah kami terapkan kepada Bintang antara lain; Ucapkan salam ketika masuk rumah, berdoa sebelum makan, makan sambil duduk, sholat berjamaah dan sebagainya. Tetapi membiasakan hal di atas kepada anak kita kadang tidak mudah, kita sebagai orang tua dapat memulainya dengan memberikan contoh. Anak akan mudah melakukan dengan kita sedikit memberikan contoh daripada kita hanya sekedar menyuruh. Meminjam bahasa para Motivator “Satu Contoh Lebih Bermanfaat dari Seribu Nasehat” mungkin bisa kita coba untuk mendidik dan membina anak kita. Orang Tua jangan egois hanya menyuruh tapi juga memberikan contoh perilaku kepada anak kita. Anak jaman sekarang kadang berpikir kritis tak terkecuali Bintang, misalnya ketika kami menyuruh Bintang untuk mengerjakan sholat:
Ayah : “dik sudah sholat magrib?
Kadang Bintang akan memberikan jawaban begini....
Bintang : “apa ayah juga sudah sholat magrib?”
Kalau kejadian seperti kasus di atas tentunya kita sebagai orang tua malu, oleh karena itu misalnya bahasa kepada anak kita rubah menjadi ajakan.
Ayah : “dik ayo kita sholat berjamaah di mushola, nanti adik yang adzan, ayah yang jadi imam”
tentunya dengan pemilihan bahasa diatas akan beda tanggapannya, disini anak akan lebih bersemangat karena merasa lebih diperhatikan bukan hanya sekedar disuruh.
Contoh kecil di atas mungkin bisa diterapkan di keluarga dalam mendidik anak, tetapi kita juga perlu memperhatikan sifat setiap anak, karena setiap anak mempunyai tabiat yang berbeda-beda. Jadi tentunya kita sebagai orang tua pastinya lebih paham sifat/karakter anak kita, sehingga dengan cara apa yang tepat dalam kita mendidik. Tips atau metodenya bisa kita peroleh melalui konsultasi dengan pakar parenting, sharing dengan orang tua teman anak kita, baca artikel dan masih banyak lagi.
Akhir kata, pemberian jaminan bahwa setiap anak dalam keluarga akan mendapatkan asuhan yang baik, adil, merata, dan bijaksana merupakan suatu kewajiban bagi kedua orang tuanya. Karena jika asuhan terhadap anak-anak sekali saja kita abaikan, maka niscaya mereka akan menjadi pribadi yang tumbuh dan berkembang kurang sempurna.