Oleh: Arifin, S.Ag., M.Pd.I., M.BA.
Orang Tua dari Ghefa Mumtazkia Arief Kelas 6 Smart
Semua orangtua pasti suka memiliki anak yang mandiri. Pagi hari, anak-anak mereka sudah bangun, mengambil air wudlu dan mengerjakan shalat subuh tanpa disuruh. Mandi dan makan pagi tidak harus dengan perintah, debat, apalagi gertakan. Kasur, bantal dan perangkat tidur lainnya kembali rapi setelah digunakan. Kamar kembali bersih dan rapi seperti semula. Perangkat belajar sudah siap dalam tas dan siap berangkat sekolah lebih awal. Tadarus dan belajar di waktu malam sudah menjadi sikap dan perilaku yang lumrah sehingga berjalan tanpa tekanan.
Banyak orang tua bertanya, bagaimana semua itu bisa dilakukan oleh anak usia sekolah dasar (SD)? Apa rahasianya, sehingga anak usia SD bisa bersikap dan berperilaku mandiri serta bertanggung jawab terhadap diriya sendiri?
Semua bermula dari cerita dan doa sebelum tidur. Setiap menjelang tidur, ibu anak-anak membacakan cerita-cerita pilihan yang membangkitkan emosi positif, memupuk mimpi serta harapan anak. Dipilihlah cerita-ceritah eroik dan kisah sukses dari berbagai sumber. Ada yang diambil dari kisah para nabi, kisah fiktif dari berbagai majalah anak, dan beberapa cerita rakyat yang positif. Pilihan cerita itu diperdengarkan kepada anak-anaknya menjelang tidur.
Setelah cerita selesai dibacakan, sang ibu kemudian merangkai doa. Anak-anaknya ditanya satu persatu tentang harapan dan keinginan jangka pendek dan jangka panjang yang ada dalam angan-angan mereka. Semua harapan anaknya kemudian dirangkai dalam satu untaian doa. Doa itu dibacakan oleh sang ibu dengan sahdu, sementara anak-anak, yang siap memejamkan mata, mengamininya. Misalnya, sang ibumembacakan untaian doa, "Ya Allah, jadikanlah anak-anak kami sebagai anak-anak yang mandiri, cerdas dan shaleh-shalehah, Ya Allah, Kakak sedang menjalani ulangan semester, berikanlah kemudahan kepadanya sehingga mampu mengerjakan ulangan dengan baik. Ya Allah, si Adik menginginkan mainan baru boneka gajah, Ya Allah, berikanlah rizqi kepada kami sehingga si Adik bisa membeli boneka gajah yang bagus dan lucu,......." Dan seterusnya, sehingga semua harapan anak-anaknya itu disebutkan dalam doa. Di waktu yang lain, rangkaian doa bisa berubah sesuai dengan kebutuhan dan harapan bersama. Lalu, diakhiri dengan doa menjelang tidur.
Mengapa membacakan cerita dan kisah-kisah terbaik? Cerita dan kisah-kisah terpilih yang dibacakan terus menerus akan membangun model dan kesadaran positif dalam diri anak. Anak akan meniru karakter positif tokoh dalam cerita. Karakter tokoh itu akan membekas pada pikiran dan mendorong anak menirunya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan doa yang dibacakan akan membangun harapan. Bermula dari harapan ini semua aktifitas hidup dibangun dengan sikap positif. Inilah rahasia pertama, cerita dan doa.
Rahasia kedua dalam membentuk kemandirian anak adalah membangun kebiasaan ibadah dan belajar. Sehabis jama’ah shalat Maghrib, semua anggota keluarga sepakat untuk mematikan televisi dan menyimpan semua alat komunikasi. Satu-satunya suara yang terdengar adalah lantunan ayat-ayat Al Quran. Bapak dan ibu mengawali bacaan Al Quran sesuai capaian tadarus harian. Terkadang ayah dan ibu saling menyimak. Kemudian, alunan merdu ayat-ayat Al Quran keluar dari mulut-mulut mungil anak-anak yang khusyuk duduk di hadapan bapak dan ibunya yang mendengarkan dengan penuh perhatian.
Setelah mengaji, ayah dan ibu memegang buku dan membaca untuk membersamai anak-anak belajar sekaligus menjadi model literasi keluarga. Anak-anak memegang buku masing-masing. Membaca menjadi kewajiban kedua setelah shalat dan mengaji. Anak yang lebih tua membimbing adik-adiknya. Mereka saling asih, asah dan asuh. Aktivitas ini dilakukan setiap hari secara kontinyu. Dengan cara ini, kebiasaan beribadah dan belajar menjadi tertanam dan berakar kuat di hati dan otak anak-anak.
Mengapa kebiasaan ini perlu dibangun ? Napoleon Hill (2004) dalam bukunya yang berjudul Law of Succes: Percaya Sukses, Harus Sukses menyebutkan bahwa membangun kebiasaan itu seperti groove. Groove adalah goresan teratur melingkar di atas piringan hitam yang dilakukan terus menerus sehingga menimbulkan bekas yang sulit dihilangkan. Kebiasaan juga demikian. Kebiasan itu seperti groove. Saat suatu kebiasaan sudah terbentuk dengan mantap melalui pengulangan tindakan atau pikiran, maka otak memiliki kecenderungan untuk mengaitkan diri dan mengikuti arah kebiasaan itu seperti halnya jarum di pinggiran hitam yang berjalan menyusuri setiap groove.
Jika kebiasaan positif sudah terbentuk, membekas mantap dalam diri anak, maka sikap dan perilaku positif mereka akan secara otomatis mengendalikan dan mengarahkan aktivitas raga dan pikirannya setiap saat. Anak yang di masa kecilnya telah terbangun kebiasan ibadah dan belajar, maka kebiasaan ini akan terbawa hingga mereka masuk usia remaja. Di saat lepas dari lingkungan keluarga nanti, mereka akan tetap menjaga kebiasaan ibadah dan belajar, karena kebiasaan itu telah membekas dalam dirinya.
Hukum pembiasaan ala groove juga berlaku untuk aktivitas makan, mandi, menata ruang pribadi, mengerjaan tugas mandiri, menyiapkan alat-alat pembelajaran dan menepati waktu berangkat sekolah. Semua harus diputar pada lintasan yang sama terus menerus tanpa henti 24 jam/7 hari sehingga membentuk guratan yang membekas sehingga menyatu dengan gerak pikir, kesadaran dan gerak motorik anak. Ending-nya, anak-anak akan melakukan hal-hal positif dengan senang hati. Semua karena terbiasa dan ada model yang dicontoh dalam keluarga.
Yang tidak kalah penting dalam membangun kemandirian anak adalah membuka ruang dialog dan membuat kesepakatan-kesepakatan. Sekecil apapun seorang anak, mereka tetap memiliki gagasan dan argumentasinya sendiri. Maka, ruang dialog harus tetap dibuka dan semua kegiatan bersama yang melibatkan anak-anak perlu dibangun berdasarkan kesepakatan-kesepakatan. Misalnya, waktu berangkat sekolah, jam berapa sebaiknya bersiap dan berangkat sekolah atau jam berapa belajar malam harus diakhiri dan sebagainya.
Inilah beberapa catatan pengalaman keluarga tentang rahasia kecil dalam membangun kemandirian anak. Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam.