SD MUHAMMADIYAH AL MUJAHIDIN WONOSARI

Jl. Mayang, Gadungsari, Wonosari, Gunungkidul

membangun kecerdasan dan keshalehan

Istiqomah dalam Mendidik Anak

Rabu, 10 Oktober 2018 ~ Oleh meidia ~ Dilihat 18 Kali

Oleh: Bp. Aminudin Rosyid, M.Pd.

Orang Tua dari Qudwa Athfa Syahida, Siswi kelas 3 Smart

 

Pada prinsipnya anak sholeh/sholehah itu tidak dilahirkan. Melainkan ditentukan oleh cara mendidik orang tua. Semua anak dilahirkan dengan posisi yang sama. Bukan  siapa orang tuanya dan darimana orang tuanya berasal.  Namun sholeh/sholehahnya anak ditentukan oleh cara mendidik orang tua yang didukung lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan tempat tinggal anak.

      Pola asuh yang pertama, kami menggunakan pembiasaan. Dengan prinsip tetap menyesuaikan usia anak, dan perlu diingat bahwa anak memiliki hak yang kemudian orang tua berkewajiban menunaikan hak anak tersebut. Model pembiasaan ini telah kami terapkan sejak ananda Qudwa belajar duduk. Ketika adzan subuh berkumandang, kami selalu membangunkan mereka untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid. Itulah salah satu contoh model pembiasaan yang kami lakukan untuk anak kami, baik dihari sekolah ataupun dihari libur.

     Yang kedua dengan keteladanan, saya dan bundanya selalu berusaha memberikan contoh sholat berjamaah di masjid, dengan alasan bahwa sholat berjamaah di masjid itu lebih baik dibandingkan dengan sholat di rumah. Ada pendapat yang mengatakan bahwa perempuan sebaiknya melaksanakan sholat di rumah, tetapi bagi kami sebaiknya sejak kecil anak diajak ke masjid agar anak bisa mengenal masjid. Kapan lagi waktunya kalau tidak sejak kecil.Jika sejak kecil anak terbiasa tidak ke masjid maka semakin dewasa mereka akan semakin jauh dari masjid. Tetapi ini masih sebatas sholat jamaahnya saja. Kami sengaja tidak memasukkan mereka di Taman Pendidikan Al Quran (TPA) yang ada di masjid.Jika manajemen TPAnya belum bagus, maka ngajinya pun tidak akan bertahan lama. Kompensasinya setiap hari kami membimbing mereka belajar ngaji di rumah. Kami mengikutkan anak-anak TPA di masjid ketika bulan Ramadhan saja, agar mereka bisa bersosialisasi dengan teman-teman di lingkungan tempat tinggal kami.

     Pola asuh selanjutnya adalah dengan nasihat, bukan tentang usia melainkan membiasakan mereka mendengar nasihat sejak dini itu lebih baik. Terkait hafalan Al Quran, kami menggunakan metode reward dan punishment. Biasanya ada kemauan dalam diri anak untuk menghafal Al Quran, meskipun belum dengan ikhlas karena Allah. Contohnya ketika Fatiha, anak kami yang pertama menginjak kelas lima, dia sudah khatam tiga juz Al Quran,  lalu meminta dibelikan handphone. Saya dan bundanya membelikan bukan sebagai hadiah serta menjadi milik Fatiha, tetapi hanya kami pinjami. Hal ini dapat kami jadikan senjata atau ancaman. Apabila dia melakukan pelanggaran handphone kami minta kembali. Kami masih memprioritaskan reward dibandingkan dengan punishment karena mengingat usia anak masih sangat dini. Reward yang nantinya akan menjadi kebutuhan mereka, misalnya sepatu.

      Seiring berjalannya waktu dalam membimbing hafalan Al Quran, kami sering memperdengarkan lantunan Qori yang terkenal dengan suara emasnya yaitu Muhamad Thoha Al-Junaid. Selain itu kami juga sering mengajak anak-anak untuk bercerita tentang penghafal Al Quran yang sukses. Kami bercerita pula tentang sahabat nabi yang menjadi penghafal Al Quran. Tujuannya agar keikhlasan tumbuh dalam hati anak-anak kami, serta dapat meyakinkan mereka bahwa dengan Al Quran mereka akan banyak mendapatkan keberkahan lain. Misalnya ada banyak beasiswa dengan syarat penerima beasiswa harus hafal sekian juz. Itulahyang dapat dijadikan motivasi bagi diri mereka. Dan alhamdulillah apa yang kami lakukan ini, usaha dalam membimbing hafalan anak berlanjut di sekolah dan sekolah menyediakan fasilitas. Dengan fasilitas dari sekolah anak berkembang sesuai dengan kemampuan mereka.

      Membimbing anak itu kuncinya harus istiqomah. Ketika anak berada difase jenuh/malas, kami berusaha menyelami psikologi anak dan mencoba empati terhadap anak. Biasanya anak lebih bisa menerima sesuatu melalui nasihat bundanya. Ketika mereka malas, indikasi menghafal jadi lama. Biasanya satu ayat hanya butuh waktu lima menit tetapi karena malas bisa jadi lebih lama. Meskipun begitu kami tidak memaksakan anak karena kami mencoba merasakan berada di posisi anak. Terkait asupan gizi anak bagi kami, memang untuk makanan tertentukami ketati.Misalnya mereka tidak boleh sering makan permen, kita melarang dengan disertai alasan mengapa permen itu tidak boleh terlalu sering dikonsumsi. Selain itu ketika anak meminta sesuatu, kami mencoba untuk menahan terlebih dahulu agar mereka berusaha untuk mendapatkannya. Tujuannya agar mereka lebih menghargai proses.

      Ayah yang berprofesi sebagai penyuluh di kantor Kementrian Agama Kabupaten Gunung Kidul, dan bunda yang berprofesi sebagai guru di SD Muhammadiyah Wonodoyo Ponjong ini selalu meluangkan waktunya untuk anak-anak. Mereka selalu membagi waktunya dengan baik. Misalnya dalam hal penjemputan anak ke sekolah, karena kebetulan di SD Muhammadiyah Al Mujahidin sampai sore jadi pulangnya dijemput ayah, tetapi kalau agak siang bunda yang bertugas menjemput. Kalau untuk pembagian tugas di rumah dalam hal membimbing anak, terkait dengan pelajaran sekolah adalah tugas bunda. Jadi kalau pas tidak keluar rumah, setiap malam dibimbing belajar dirumah. Namun untuk masalah keagamaan dibimbing oleh ayah. Seperti hafalan Al Qurannya, alhamdulillah ayah dari ananda Fatiha dan Qudwa ini selalu berusaha membimbing anak setiap malam disaat maghrib.

     Pesan atau tips and trict untuk orang tua/wali murid yang lain dalam hal kebaikan apapun terutama terkait pola asuh anak menurut ayah dari Qudwa ini adalah istiqomah. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah istiqomah atau konsisten. Insya Allah ini bisa dilakukan oleh semua orang tua. Untuk menjaga keistiqomahan dalam hafalan anak, beliau pernah menggunakan metode one day one ayat. Bisa dilakukan habis sholat magrib dan diulangi lagi ketika habis shalat subuh, sebelumnya murojaah terlebih dahulu. Walaupun kemudian hanya satu ayat setiap hari yang penting istiqomah. Jadi yang harus kita tanamkan adalah anak harus lebih baik dari orang tua. Karena di akhirat nanti tidak akan ditanyakan masalah dunia, melainkan agamanya.

 

Sumber: Majalah "Mumtazah" Edisi Bulan Agustus 2018

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT