SD MUHAMMADIYAH AL MUJAHIDIN WONOSARI

Jl. Mayang, Gadungsari, Wonosari, Gunungkidul

membangun kecerdasan dan keshalehan

Kompetensi Sosial pada Anak

Sabtu, 29 September 2018 ~ Oleh meidia ~ Dilihat 34 Kali

 

Oleh: Zusy Aryanti, M. A.

Dosen IAIN Metro, Lampung

Kandidat Doktor Psikologi Universitas Padjajaran Bandung

 

       Anak mulai mengenal dunia sosial ketika mulai berani mengeksplorasi dunia sekitarnya.Saat masih balita, dunia sosial anak hanya terbatas pada lingkup keluarga, kemudian berkembang menjadi lingkup keluarga dan tetangga dekat. Memasuki masa kanak-kanak pertengahan dan masa kanak-kanak akhir, kehidupan sosial dikembangkan dalam lingkungan sekolah (Monks, Knoer & Haditono,1994). Anak mulai dihadapkan pada tugas sosial yang lebih rumit dibanding ketika belum bersekolah, dimana ia bertemu denganorang-orang baru dan melakukan penyesuaian diri.Anak dituntut dapat menjalin relasi interpersonal yang lebih luas dengan orang lain, yaitu teman dan guru yang sebelumnya hanya keluarga dan tetangga terdekat.

   Perubahan lingkungan sosial ini seringkali membuat anak merasa tidak aman dan nyaman. Anak tidak memiliki keberanian mengeksplorasi situasi baru dikarenakan tidak mampu membaca sinyal-sinyal sosial seperti bagaimana menjalin relasi dengan baik, saling menghargai, bekerjasama, bersikap baik terhadap teman dan guru, mengungkapkan keinginan dengan tidak menyinggung perasaan teman laindan sebagainya. Jika hal ini berlangsung terus menerus, maka anak akan sulit menyesuaikan diri danakan menghambat keterlibatannya dalam kegiatan di sekolah.

 

Kompetensi Sosial

       Dilihat dari perkembangannya, anak usia sekolah dasar di bagi menjadi dua, yaitu; usia sekolah dasar masa kanak-kanak pertengahan dan usia sekolah dasar masa kanak-kanak akhir (Santrock, 2007) atau lebih sering dikenal dengan masa kanak-kanak pertengahan dan masa kanak-kanak akhir saja. Masa kanak-kanak pertengahan bekisar antara 6-10 tahun dan masa kanak-kanak akhir bekisar antara 10-12 tahun. Selama masa sekolah anak menghabiskan sebagian waktunya bersama teman sebaya (Bee & Boyd, 2007). Selama masa itu pula anak harus memiliki kompetensi sosial yang akan membantu tugas tugasnya disekolah.

     Hurlock (1991) menuturkan kompetensi sosial adalah kemampuan atau kecakapan indvidu untuk berhubungan dengan orang lain dan terlibat dalam situasi sosial yang memuaskan. Sering kali istilah kompetensi sosial saling bertukar penggunaannya dengan istilah ketrampilan sosial. Hops (dalam Cartledge Milburn, 1995) membedakan kedua pengertian ini. Menurutnya kompetensi sosial adalah istilah yang merefleksikan penyesuaian sosial individu dalam situasi tertentu. Keterampilan sosial sendiri merupakan konsep yang dipandang dari sudut perilaku nyata dan dapat diidentifikasi sebagai dasar kompetensi sosial.

    Menurut Ruegg (2003) individu dikatakan kompeten jika dapat dengan benar menentukan perilaku mana yang pantasdilakukan dalam situasi yang ada. Asher dan Parker (dalam Durkin, 1995) menyatakan kompetensi sosial merupakan komponen integral dari persahabatan yang dibutuhkan ketika individu mulai menjalin hubungan dan akan memfasilitasi berkembangnya hubungan tersebut menjadi hubungan erat seperti persahabatan. Anak yang kompeten diharapkan mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilannya dalam menjalin dan meningkatkan aspek positif sehingga terbentuk hubungan sosial yang efektif.

 

Ciri Anak Memiliki Kompetensi Sosial

     Anak yang memiliki kompetensi sosial yang baik akan mengerti, memahami dan dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi dan tuntutan lingkungan, serta tidak menimbulkan gangguan ataupermasalahan bagi orang lain.Cavell (dalamCartledge & Milburn, 1995)mengatakan bahwa kompetensi sosial anak merupakan bangunan multilevel yang saling menunjang, terdiri dari ;

  1. Social adjustment (penyesuaian sosial),yaitu merupakan sikap yang digunakan untuk memahami situasi-situasi sosial yang dihadapi berdasarkan kesepakatan yang ada, menentukan perilaku yang tepat untuk terlibat dalam situasi sosial. Anak mengerti diri sendiri dan orang lain, serta aturan dalam komunitasnya (Durkin, 1995).
  2. Social performance, merupakan perilaku prososial yang ditunjukkan anak dalam mengembangkan kompetensi sosialnya. Anak dianggap memiliki kompetensi sosial baik jika anak memiliki kemampuan dan perilaku yang lebih positif dan sedikit negatif dalam hubungannya dengan orang lain. Ia menggunakan keterampilan dan pengetahuan untuk melakukan relasi positifdengan orang lain, mampu mengaktualisasikan diri, mampu menerima kenyataan dan mampu memahami keadaan lingkungan. Anak dengan perilaku prososial akan menganggap perbedaan sebagai suatu pengalaman yang memberikan manfaat pada kehidupan sosialnya(Declerck dan Bogeart, 2008).
  3. Social Skill (keterampilan sosial). Keterampilan sosial merupakan aspek kompetensi sosial yang paling mudah diidentifikasi. Salah satu cara melihat keterampilan sosial adalah dariperilaku prososial yang muncul. Schloss, Schloss, Wood & Kiehl (dalam Cartledge & Milburn, 1995), menyatakan keterampilan sosial dapat didefinisikan sebagai perilaku khusus yang dapat diobservasi, yaituperilaku yang digunakan dalam rangkaian interaksiterhadap lingkungan sosial. Misalnya menganggukkan kepala dan menyapa bila bertemu,percaya diri dan mampu berkomunikasi dengan baik. Anak dianggap memiliki kompetensi sosial jika dapat mandiri, ramah, mampu merespon, tidak bermusuhan, kooperatif meskipun berbeda, memiliki tujuan dan kontrol diri, serta tidak impulsif (Baumrind, dalam Konstelnik., dkk, 1998).

  Kemampuan menilai situasi sosial merupakan hal penting dalam pembentukan kompetensi sosial. Secara umum, dapat difahami bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan anak untuk bertindak secara efektif. Tindakan efektif terjadi jika anak  menunjukkan perilaku yang bertanggung jawab, mandiri, bersahabat, mampu bekerjasama, memiliki tujuan dan memiliki kontrol diri dan peka terhadap lingkungan sekitar.  Kepekaan terhadap situasi sosial membuat anak dapat membedakan situasi yang ada, sehingga dapat menentukan tindakan yang akan dilakukan secara tepat. Dalam situasi tertentu, respon yang diberikan hendaknya tidak bertentangan tetapi justru diharapkan dapat meringankan.

 

DAFTAR RUJUKAN PENULIS:

Bee, H., & Boyd, D . (2007).  The Developing Child. Ed. Sidney : Pearson.

Cartledge, G., & Milburn, J. F. (1995). Teaching Social Skill to Children and Youth. Singapore: Allyn and Bacon.

Durkin, K. (1995). Develomental Social Psychology. 148-316.  USA : Cambridge Publisher.

Hurlock, E.B. (1991). Child Development. Tokyo: McGraw Hill Kogakusha, Ltd

Konstelnik, M.J., Stein, L. C., Whiren, A.P., & Soderman, A.K. (1988).  Guiding Childrens’         Social Development. West Chicago: South Western Publishing.

Monks, F. J., Knoer, A. M. P., & Haditono, S. R. (1994).  Psikologi Perkembangan: pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta; Gadjah Mada University Press.

Ruegg, E. (2003). Sosial Competence, Transition Plans and Children With Learning Disabilities. Article retrieved June 7, 2009, from Oakland University.

Santrock, J. W.(2007). Perkembangan Anak. (Alih bahasa : Rahmawati, M & Kuswanti, A). Jakarta : Erlangga.

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT