SD MUHAMMADIYAH AL MUJAHIDIN WONOSARI

Jl. Mayang, Gadungsari, Wonosari, Gunungkidul

membangun kecerdasan dan keshalehan

Mengajarkan Anak Berpuasa Sejak Dini

Kamis, 30 Mei 2019 ~ Oleh Meidia Fithri ~ Dilihat 371 Kali

 

Oleh: Sri Hartatik, S.Pd.Si
Orang Tua dari Almira Satya Budi, Kelas 2 Champion & Haifa Satya Budi, Kelas 2 Olympiad

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bagi umat muslim, Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Selama sebulan penuh umat muslim diwajibkan menjalankan ibadah puasa kecuali bagi anak-anak atau orang yang belum menginjak baligh. Meskipun belum diwajibkan, namun alangkah baiknya jika orangtua mengajarkan anak-anak untuk berpuasa sejak dini.

Allah SWT berfirman dalam surat At Tahrim ayat 6

Artinya :

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

Ayat ini menjadi dalil bahwa orang tua memiliki tanggung jawab di hadapan Allah untuk mendidik anaknya sesuai dengan ajaran Islam. Di antara bagian pendidikan Islam bagi anak adalah membiasakan mereka untuk melakukan amal saleh, terutama amal wajib, seperti shalat atau puasa.

Dalam masalah puasa, para sahabat mendidik anaknya untuk berpuasa. Disebutkan dalam hadist dari Rubayi’ binti Muawidz radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mengutus sahabat di pagi hari Asyura (10 Muharam) untuk mengumumkan, “Barang siapa yang sejak pagi sudah puasa, hendaknya dialanjutkan puasanya. Barang siapa yang sudah makan, hendaknya dia puasa di sisa harinya.” Para sahabat mengatakan, “Setelah itu, kami pun puasa dan menyuruh anak-anak kami untuk puasa. Kami pergi ke masjid dan kami buatkan mainan dari bulu. Jika mereka menangis karena minta makan, kami beri mainan itu hingga bisa bertahan sampai waktu berbuka” (HR. Bukhari, no. 1960; Muslim, no. 1136)

Hadits di atas menunjukkan bahwa pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, para orang tua melatih anak-anaknya puasa. Perbuatan para sahabat ini tidak dilarang oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ini berarti para orang tua dapat melatih anak-anaknya ikut puasa sejauh kemampuan mereka. Bila mereka tidak sanggup, orang tua tidak boleh memaksa anak-anaknya puasa sehari penuh, sebab mereka belum berkewajiban menjalankan ibadah puasa.

Ibadah dijalankan dengan ringan karena ada latihan dan pembiasaan. Begitu pula dengan ibadah puasa yang sangat dominan sisi fisiknya. Dengan membiasakan atau melatih anak berpuasa sejak kecil diharapkan kelak ketika sudah baligh akan mudah menjalankan ibadah puasa. Lalu bagaimana cara mengenalkan dan melatih anak-anak untuk berpuasa? Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, diantaranya:

1. Memberi Teladan

Anak-anak membutuhkan figur teladan, dan teladan paling dekat bagi anak adalah orangtua. Saat orangtua menjalankan ibadah puasa, pasti anak akan bertanya apa itu puasa, mengapa ayah dan ibu tidak makan, dan sebagainya. Hal itu akan menimbulkan rasa penasaran anak, sehingga anak ingin mencobanya. Di usia yang masih mudaanak bisa dengan mudah meniru perilaku orang-orang di sekitarnya, sehingga memberikan contoh lebih efektif dibandingkan sekedar memberikan instruksi.

2. Tidak memaksa anak

Perlu diingat bahwa melatih anak berpuasa Ramadhan tidak sama dengan mewajibkan mereka berpuasa. Telah jelas bahwa Islam sendiri tidak menghendaki adanya unsur paksaan dalam mendidik anak. Bila orangtua memaksa anak berpuasa di luar batas kemampuan si anak, ibadah yang sejatinya indah malah akan menjadi rasa susah.

3. Memulai secara bertahap

Melatih anak berpuasa sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi dan kemampuan anak. Bisa dimulai dengan puasa setengah hari (orang jawa menyebutnya puasa mbedug), berbuka saat dhuhur lalu melanjutkan kembali puasanya sampai maghrib. Kalau anak sudah merasa kuat, boleh mencoba berpuasa sehari penuh hingga bedug maghrib.

4. Memperhatikan kualitas makanan

Biar bagaimanapun anak-anak masih dalam masa pertumbuhan, maka sangat penting menyediakan menu sahur dan berbuka dengan asupan makanan yang sehat bernutrisi. Apalagi jika menu yang disajikan tersebut adalah kegemaran si anak, pasti akan menambah semangat anak dalam berpuasa.

5. Membuat kegiatan yang menyenangkan

Biasanya anak mulai rewel pada jam-jam tertentu. Karenanya perlu dilakukan upaya untuk mengalihkan perhatiannya, menyibukkan mereka agar lalai dari rasa lapar dan dahaga dengan kegiatan yang menarik dan menyenangkan.

6. Memberikan motivasi dan pujian pada anak

Terlepas dari berapa jam anak sudah puasa atau berapa hari anak mengikuti puasa, alangkah baiknya orangtua memberikan penghargaan atau apresiasi kepada anak setelah ia menjalankan puasa. Tidak harus selalu dengan hadiah berupa materi, bisa juga dengan memuji dan mengatakan bahwa ia anak yang hebat, hal tersebut sudah dapat menambah semangat anak untuk ikut menjalankan ibadah puasa lagi dan lagi.

Demikian sedikit yang bisa saya tulis, mohon maaf atas segala kekurangan, semoga menjadikan manfaat untuk penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Dan semoga putra putri kita selalu semangat dan istiqomah dalam belajar berpuasa dan kita sebagai orang tua juga selalu semangat dalam mendampingi belajar putra putri tercinta kita.

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Sumber:

Thalib, Muhammad. 2014. Melatih Anak Puasa. https://www.arrahmah.com/kajian-hadist-34-melatih-anak-puasa/.

Nur Baits, Ammi. 2011. Puasa Anak Kecil dan Pahalanya. https://konsultasisyariah.com/6547-puasa-anak-kecil.html.

Agustin, Diantenti. 2019. Inilah 7 Cara Mendidik Anak Berpuasa Sejak Dini. https://youtu.be/SVE9JpUJM2Y.

 

 

 

 

 

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
  • ...

    PPMBI

    Selasa, 27 Agustus 2019