SD MUHAMMADIYAH AL MUJAHIDIN WONOSARI

Jl. Mayang, Gadungsari, Wonosari, Gunungkidul

membangun kecerdasan dan keshalehan

Mendampingi Anak Belajar Saat Ujian

Kamis, 28 Maret 2019 ~ Oleh Meidia Fithri ~ Dilihat 488 Kali

 

Oleh: Anik Dwi Nurmawati, S.Pd.

Orang Tua dari Daviesa Fiorenza Yocelyn Putri, Kelas 4 Smart

 

Belajar adalah suatu proses atau upaya yang dilakukan setiap individu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku, baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai positif sebagai suatu pengalaman dari berbagai materi yang telah dipelajari. Menurut Sadirman (2011: 26- 28) secara umum tujuan belajar adalah untuk memperoleh pengetahuan, menanamkan konsep dan keterampilan, serta membentuk sikap.

Orang tua adalah guru pertama bagi anak, karena orang tualah yang pertama kali mendidik atau menanamkan pendidikan dasar kepada anak-anaknya. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam belajar, oleh karena itu hendaknya orang tua senantiasa memotivasi anak agar lebih giat dalam belajar dan juga berprestasi. Motivasi belajar dari orang tua merupakan salah satu bentuk nyata pentingnya peran orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya.

Orang tua juga harus menemani atau mendampingi anak saat belajar. Saat mendampingi anak belajar, orang tua harus siap memberikan pertolongan dengan membantu kesulitan yang dihadapi anak, mengatasi masalah belajar, memberi dukungan kepada anak dan menjadi teladan bagi anak-anak.

Kiat menemani anak belajar saat menghadapi ujian:

  1. Sebelum mulai belajar ajaklah anak melihat cakupan materi yang akan dipelajari.
  2. Ciptakan suasana yang menyenangkan dan nyaman, baik dalam proses maupun ruangan tempat anak belajar.
  3. Menjadikan pembelajar mandiri. Orangtua sebaiknya melatih anak menjadi pembelajar mandiri hingga ia paham apa yang harus dipelajari dan orangtua siap mendukung atau memfasilitasinya.
  4. Tidak membebaninya dengan target. Misalnya, hari ini anak harus bisa atau mahir tertentu. Biarkan anak menulis atau berhitung sesuai keinginannya, sementara membimbing agar ia dapat melakukannya dengan baik.
  5. Kenali gaya belajar anak. Orangtua perlu mengenal gaya belajar anak. Ada anak yang gampang menguasai pelajaran dengan membaca, ada juga yang efektif bila mendengar penjelasan atau melihat secara visual. Bahkan ada anak yang bisa mudah memahami pelajaran dengan mempraktikkan langsung.
  6. Hindari mendominasi atau mengintervensi anak saat ia menggali pengetahuan. Pemaksaan hanya akan menyebabkan anak merasa tertekan dan jenuh.
  7. Lihat usaha anak lebih dari hasilnya. Jadi, kalau memang hasilnya belum maksimal, tetap beri penghargaan dan semangat atas usahanya untuk dapat menghasilkan yang terbaik. Sehingga, ia tidak merasa rendah diri dan sebaliknya akan lebih tertantang di kemudian hari.
  8. Sesuaikan kondisi dan usia. Sesuaikan waktu belajar dengan kondisi dan usia anak. Semakin kecil usia anak, kemampuan untuk bertahan dan konsentrasi semakin sedikit. Pilih juga waktu belajar yang tepat dengan kondisi anak, misal sebelum dan sesudah makan malam.

Menemani anak ketika belajar adalah keinginan kita ketika menjadi orangtua. Namun, tidak jarang banyak orangtua yang mengeluh ketika mengajarkan anaknya sampai-sampai emosi pun turut andil ketika kita menemani anak belajar. Tidak mudah memang untuk menahan amarah ketika menemani anak belajar. Apalagi jika anak kita memiliki kesulitan-kesulitan belajar yang secara awam tidak banyak diketahui. Sehingga tidak jarang kita sebagai orangtua mulai naik pitam ketika sudah sekian kali diajarkan tapi tidak juga dipahami oleh anak. Sayangnya, jika kita sudah menggunakan emosi ketika mengajar maka akan berdampak negatif pada diri anak. Anak akan merasa tidak percaya diri, enggan untuk berusaha sampai penolakan terhadap ucapan yang diberikan oleh orangtua atau pada umumnya anak sudah diberikan label “anak bandel”.

Agar kesulitan-kesulitan belajar yang dialami anak tidak berlanjut ke-lebel negatif anak, maka sebagai orangtua kita harus menahan diri atau sabar, mengamati, ketika anak tidak menguasai apa yang telah kita sampaikan berkali-kali. Setidaknya kita punya anggapan bahwa anak mungkin *belum waktunya* mencapai tahap yang kita harapkan.

Selain itu kita harus mengamati adakah memahami apakah ada indikasi kesulitan belajar pada anak kita. Ketika kita sudah tahu penyebabnya, maka kita harus mengambil tindakan yang sesuai dengan kondisi anak kita. Namun, jika kesabaran yang menjadi hambatan bagi kita untuk menyampaikan pelajaran maka ada baiknya kita memberikan kepercayaan kepada orang lain yang memiliki kapasitas lebih untuk menemani anak kita belajar tanpa melepas pemantauan proses belajarnya.

 

 

Sumber:

A.M. Sadirman. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja grafindo: Jakarta

https://ibudanaku.com/ruangmom/artikel/perlukah-menemani-anak-belajar

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT